
Tura News Indonesia– Era baru pengolahan karet alam di Indonesia telah dimulai dengan penggunaan AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan). Adalah PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) menerapkan penggunaan AI (artificial intelligence) untuk efisiensi pengamanan produksi pengolahan karet di pabrik.
PTPN I kembali menggenjot bisnis karet sebagai salah satu komoditas strategis, dimana pengamanan produksi dipentingkan. Penerapan penggunaan AI dilakukan PTPN I dengan dimulai di Kebun Glantangan Jember, Jawa Timur, yang merupakan Regional 5.
Unit bisnis PTPN I untuk komoditas karet, terdapat sejumlah perkebunan di Jawa Barat, Jawa Tengah , Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Aceh, dan Indonesia Timur. Hasil usaha dari komoditas karet, tercatat kembali bagus pada tahun 2023-2025.
Dipakai apa ?
Direktur Utama PTPN I, Teddy Y Danas, Jumat, 23 Agustus 2025, menyebutkan, penggunaan AI untuk pengamanan produksi pengolahan karet di pabrik, dilakukan melalui CCTV berbasis AI. Pilot project adalah di Kebun Glantangan.
PTPN I masih merupakan salah satu pemain besar karet di Indonesia, yang kini kembali menggenjot bisnis komoditas ini. Namun, produksi karet dari PTPN I masih relatif hanya 2-3 persen dari produksi karet di Indonesia, sehingga produksi melalui perluasan areal harus dilakukan.
Disebutkan, pada tahun 2024, produksi karet PTPN I dari unit-unit perkebunan sendiri sekitar 70.000 ton. “Tahun 2025 ini, dari kebun-kebun sendiri mudah-mudahan naik ke 75.000 ton, ditambah dari kebun rakyat sekitar 30.000, total bisa mencapai 115.000 ton” ujar Teddy Y Danas.
Areal komoditas karet diusahakan oleh PTPN I hampir 60.000 hektar. Kualitas mutu karet terus dijaga, dan sudah memperoleh sertifikasi dari Lembaga resmi di Eropa, dimana pemasaran sebagian besar untuk ekspor.
Teddy Y Danas optimis bisnis karet PTPN I ke depannya akan bagus. Alasannya, produksi karet dunia terus menurun karena dikonversi ke sawit, sedangkan kebutuhan karet dunia sebenarnya selalu tinggi. Indonesia dan Thailand kini sebagai produsen terbesar karet alam dunia.
Dengan rentang harga 2-3 dolar AS per kg (RSS I), diyakini bisnis karet di Indonesia masih tetap memperoleh untung. Alasannya, walau dulu harga karet adalah 3 dolar AS/kg, tetapi nilai tukarnya masih sekitar Rp 8.000-10.000/kg, kini dengan nilai tukar dolar AS Rp 16.500/kg maka dengan harga 2 dolar AS hasil pengkali lebih besar. ***
0 Comments